Memaksa Memperbaiki Diri

Ini mungkin hanya prasangka saya belaka. Ketika saya melaksanakan sholat jum'at di desa saya, ada sebagian remaja di desa saya yang dengan santainya berangkat terlambat menuju masjid dengan sebatang rokok di tangannya. Sesampai di masjid bukannya langsung menuju shaf yang sudah disediakan, malah mereka nongkrong di emperan madrasah. Ya, masjid di desa saya ada madrasahnya dan dengan santainya mereka nongkrong disana sambil mendengarkan khatib menyampaikan khutbahnya. Bagi saya, hal ini sungguh ironis, bayangkan saja ketika sholat selesai mereka juga langsung pulang begitu saja. Berangkat akhir pulang awal.

Saya sendiri walupun tidak separah itu, tapi kadang setiap selesai sholat jamaah juga tidak betah untuk duduk berlama-lama. Godaan untuk segera keluar dari jamaah terus saja membisiki telinga saya. Ya, kadang saya sudah sibuk tengak-tengok ke belakang apakah sudah ada jalan untuk keluar atau biasanya saya mengambil handphone yang ada dikantong saya sekedar melihat apakah ada sms masuk atau melihat update status teman-teman di facebook. Usaha untuk menghindari hal ini kemudian saya ganti dengan berdzikir dan berdoa kadang terasa sangat berat sekali.

Kadang sengaja handphone saya tinggalkan ketika saya pergi untuk sholat jamaah, hal ini agar saya tidak tergoda untuk mengambilnya ketika sholat selesai. Tapi ternyata hal ini juga belum bisa memotivasi saya untuk berdzikir dan berdoa dengan maksimal. Memang saya akui hal ini adalah salah dan harus diperbaiki. Bahkan saya seharusnya memaksakan diri saya untuk berdzikir dan berdoa, benar apa yang dikatakan oleh salah seorang ustadz saya bahwa sebuah perbaikan kadang harus dipaksa kepada diri sendiri. Tapi bagaimana caranya saya memaksa diri saya agar tidak keluar dan betah untuk berdzikir dan berdoa?

Duduk di shaf pertama menjadi cara yang lumayan jitu bagi saya agar setelah salam tidak langsung meluncur keluar. Karena jika saya berada pada shaf pertama, tentu saja saya akan malu jika setelah salam saya harus berjalan melewati shaf-shaf di belakang saya. Dengan hal ini saya terpaksa harus menunggu sampai jamaah yang ada di belakang saya tersebut meninggalkan tempat duduknya. Waktu inilah yang menjadi kesempatan bagi saya untuk berdzikir dan berdoa. Parah memang jika dipikir, tapi hal ini merupakan kenyataan yang terjadi di lapangan. Silahkan percaya atau tidak.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari apa yang saya tuliskan. Seperti biasa di akhir tulisan saya, Mari memperbaiki dari diri sendiri.

Postingan terkait:

6 Tanggapan untuk "Memaksa Memperbaiki Diri"

  1. biar g males enaknya, dipekso ^^

    BalasHapus
  2. @jiah al jafara

    bener banget.... kalau g dipaksa siapa yang mau mengubah....

    BalasHapus
  3. salam kenal max huda blognya kereen...

    Iya benar, kadang kita kudu sedikit dipaksa buat kebaikan .. Saya kudu bisa begitu :)

    BalasHapus
  4. @shofyan oyan

    keren darimana coba... ha ha ha :D
    mari sedikit demi sedikit memperbaiki diri

    BalasHapus
  5. Saleum,
    Aku sih percaya aja dengan fakta tersebut soalnya bukan sekali dua kali didaerahku sering terlihat remaja yang sengaja mendengarkan khutbah diluar masjid. Sempat juga sih kutegur mereka, kemudaian mereka masuk kedalam, namun jum'at selanjutnya ada lagi yang nongkrong diluar. akhirnya aku biarkan saja. Suka2 dia lah,

    BalasHapus
  6. kejadian yang hampir sama dengan yang saya posting beberapa waktu lalu tentang shalat jum;at

    http://jarwadi.wordpress.com/2011/11/04/shalat-jumat-jamaah-kurang/

    BalasHapus